adsensense champ

Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 27, 2010

50% Remaja Indonesia Melakukan Seks Pra Nikah


50% remaja melakukan hubungan seks diluar nikahKapanLagi.com – Peranan orang tua sangat diperlukan untuk mencegah para remaja melakukan hubungan seks pra nikah (di luar nikah).
“Peran orang tua itu sangat penting untuk membina dan mengawasi anak-anak mereka yang masih berusia remaja,” kata Sosiolog Prof. Dr. Badarudin, MA di Medan, Minggu (24/05).
Hal tersebut dikatakannya ketika diminta komentarnya mengenai 52% remaja pernah melakukan hubungan seks pra nikah.
Sebelumnya, Kepala BKKBN Pusat, Sugiri Syarif saat memberikan kuliah umum bagi mahasiswa di Unimed, Rabu,(13/5) mengatakan, sebanyak 52% remaja di Kota Medan mengaku pernah berhubungan seks di luar nikah.
Data tersebut berdasarkan hasil penelitian survei DKT Indonesia, PKBI Rakyat Merdeka, Komnas PA dan analisa SKRRI 2002.
Selain itu, menurut dia, sebanyak 51% terdapat di Jabotabek, 54% di Surabaya dan juga 47% terdapat di Bandung yang remajanya pernah melakukan hubungan seks pra nikah.
Rata-rata usia remaja yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah itu antara 13 sampai 18 tahun.
Badarudin mengatakan, dengan pengawasan orang tua yang ekstra ketat terhadap anak-anak mereka itu, diharapkan tidak ada lagi ditemukan remaja yang berhubungan seks di luar nikah.
Perbuatan anak-anak remaja seperti ini, harus secepatnya dihentikan dan jangan terus dibiarkan meluas di tengah-tengah masyarakat.
“Tindakan yang salah dan melanggar hukum itu, agar secepatnya dicegah, karena ini jelas menyangkut moral generasi muda harapan bangsa,” kata Badarudin yang juga Guru Besar FISIP USU.
Selanjutnya, ia menjelaskan, bagaimana nantinya masa depan generasi muda calon-calon pemimpin bangsa itu, kalau beginilah yang terus mereka lakukan.
“Ini jelas sangat memalukan dan dianggap tidak bermoral. Perilaku jelek yang tidak mencerminkan budaya ketimuran itu harus dapat dihilangkan jauh-jauh,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, selain pengawasan orang tua agar para remaja tidak terjerumus berhubungan seks di luar nikah, menonton film porno dan kegiatan yang merugikan lainnya.
Bahkan, pendidikan agama dan keimanan yang cukup kuat juga dapat mencegah atau “membentengi” para remaja agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji atau dapat menyesatkan.
“Pengawasan orangtua dan pendidikan keimanan dapat menyelamatkan masa depan generasi muda agar tidak berperilaku amoral,” kata Badarudin. (wo/bee)
Peranan orang tua sangat diperlukan untuk mencegah para remaja melakukan hubungan seks pra nikah (di luar nikah). Ditemukan bahwa 52% remaja pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Data tersebut berdasarkan hasil penelitian survei DKT Indonesia, PKBI Rakyat Merdeka, Komnas PA dan analisa SKRRI 2002.
Sumber: KapanLagi

Konten Porno Pemicu Remaja Ngeseks di Usia Dini


Berjuta konten porno di internet memudahkan siapa saja yang ingin mengaksesnya, tak terkecuali para remaja di bawah umur. Konon, para remaja yang sering mengakses konten porno lebih cepat kehilangan keperawanan atau keperjakaannya daripada mereka yang tidak terekspos konten esek-esek tersebut.
Hal itu dikemukakan berdasarkan riset yang dilakukanCyberPyschology and Behaviour yang bermarkas di Skotlandia. Riset tersebut menyebutkan bahwa remaja pria berumur 12 dan 17 yang secara rutin membuka konten porno akan melakukan seks pada usia dini lantaran berkeinginan besar untuk meniru apa yang mereka lihat.
“Internet mempunyai efek yang sangat besar dalam mempengaruhi dan merubah kebiasaan seseorang dalam kehidupan seks,” tutur Shane Krauss, psikolog dariCastleton State College seperti dikutip dari SundayHerald, Selasa (6/5/2008).
Para ahli perilaku juga mengaitkan banyaknya kehamilan remaja dan penyebaran penyakit kelamin pada remaja dibawah umur juga sangat berhubungan dengan perilaku kecanduan konten porno.
“Internet adalah tempat dimana mereka mendapatkan konten-konten yang sangat ekstrim sekalipun. Kadang (konten porno) bisa ditonton secara live dan ini bisa mengarahkan ke aksi yang tidak sehat,” tandas Catherine Harper, pembicara dari Scottish Women Against Pornography.
Pemerintah Vs Situs Porno
Menanggapi hal ini, para ahli menyarankan agar sekolah-sekolah lebih intens lagi dalam menyebarkan pendidikan seks serta penyebaran informasi soal penyakit kelamin akibat seks tak sehat.
Sayangnya, para remaja tersebut lebih banyak mengetahui seluk beluk soal seks melalui situs pornografi dibandingkan dengan program pemerintah.
“Karena kurangnya pendidikan mengenai seks yang baik, tak heran bila para remaja ingin tahu lebih banyak soal seks melalui sumber alternatif lain termasuk konten porno di internet,” ujar terapis psychosexual Sue Maxwell.
Sumber: 
detikInet